Selasa, 06 November 2018

KEBIJAKAN “GONG TANI” DI KABUPATEN BELU


Oleh: Ir. Beny. Ulu Meak, M.Si

I.     PENDAHULUAN

Salah satu kebijakan dan langkah strategis untuk mempercepat pelaksanaan pembangunan pertanian yang di rumuskan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Belu tahun 2016-2021 untuk peningkatan ekonomi berbasis kerakyatan menegaskan bahwa peningkatan ekonomi wilayah dilakukan dengan upaya pengembangan dan pengelolaan potensi sumberdaya alam, khususnya optimalisasi pada sektor primer (pertanian tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan dan perikanan) secara terpadu dengan menguatkan kapasitas kemampuan masyarakat dengan Gotong Royong Petani (Gong Tani).
     Pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Belu telah menghasilkan produk unggulan seperti padi, jagung, jambu mete dan lombok/cabe. Begitu pula pada sub sektor peternakan telah menghasilkan produk unggulan seperti ternak sapi dan babi yang sangat berkontribusi pada peningkatan ekonomi wilayah dan penyerapan tenaga kerja. Namun dalam pengembangannya, peningkatan komoditas unggulan ini belum optimal karena masih belum didukung dengan ketersedian prasarana produksi (industri pengelohan hasil), pasar dan tenaga kerja yang terampil. Padahal pengembangan sektor pertanian akan dapat meningkatkan pendapatan ± 60% bagi masyarakat Kabupaten Belu. Selain itu, dapat menggerakkan sektor ekonomi lainnya yang menyediakan input bagi sektor pertanian, ataupun memanfaatkan produk sektor pertanian sebagai input.
Selanjutnya untuk menjamin keterpaduan pembangunan sektor primer maka ditetapkan pembangunan Desa/Kelurahan berbasis pertanian dengan strategi pola pemberdayaan masyarakat untuk mendukung 3 (tiga) tekad pembangunan dari 4 (empat) tekad yang ditetapkan yaitu ; tekad peningkatan produksi dan produktivitas padi sawah, peningkatan produksi dan produktivitas jagung serta tekad peningkatan populasi ternak sapi. Hal ini dapat dipastikan dengan pola intensifikasi pertanian yaitu pengolahan lahan pertanian yang ada dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan hasil pertanian dengan menggunakan berbagai sarana lewat pelaksanaan Gong Tani akan dapat memberikan kontribusi secara signifikan terhadap peningkatan produktivitas padi sawah, jagung maupun populasi ternak sapi.

II.      KONSEPSI GONG TANI

Gong Tani ini merupakan salah satu gerakan, dimana para petani diarahkan dengan semangat gotong royong untuk membentuk kelompok tani agar bisa bekerja secara bersama dengan jadwal kerja yang sudah disepakati bersama. Konsep gong tani dengan melibatkan peran serta petani (sebagai pelaku aktif) dan masyarakat pedesaan dalam meningkatkan dan mengembangkan lahan pertanian yang ada secara optimal dan lestari dengan memanfaatkan pilihan teknologi yang benar, murah, sederhana dan efektif  untuk meningkatkan produktivitas pertanian, pendapatan petani, dan kesejahteraan masyarakat.
Oleh karena itu, Gong Tani  dapat diartikan sebagai suatu gerakan bersama para petani yang ditujukan untuk selalu menambah produksi per kapita dan sekaligus dapat mempertinggi pendapatan dan produktivitas usaha tiap-tiap petani dengan jalan menambah modal dan keterampilan untuk memperbesar partisipasi petani di dalam perkembangan proses budidaya pertanian.
Tujuan  Gong Tani adalah : (1) Terwujudnya kemandirian kelembagaan masyarakat; (2) Meningkatkan pendapatan anggota masyarakat; dan (3) Meningkatkan ketahanan pangan dengan kegiatan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang berkelanjutan.


III.   PELAKSANAAN GONG TANI

Ada empat langkah pokok yang harus dilakukan dalam pelaksanaan Gong Tani di Kabupaten Belu yakni:  pertama, peningkatan kemampuan petani dan penguatan lembaga pendukungnya sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit usaha ; kedua, pengamanan ketahanan pangan; ketiga, peningkatan produktivitas, produksi dan daya saing produksi pertanian; dan keempat, pemanfaatan lahan untuk diversifikasi usaha dan mendukung produk pangan.
Selain itu, tangtangan yang harus diantisipasi secara baik adalah membangun jaringan pemasaran dan aktivitas nilai tambah yang masih lemah, sistem pertanian yang masih tradisional serta akses pelaku ke supporting system (lembaga pemerintah, lembaga swasta, lembaga keuangan dan lembaga pendidikan/penelitian) dalam sistem agribisnis yang masih lemah. Oleh karena itu solusi cerdas yang ditempuh yakni; membangun sinergisitas lembaga lain yang mendukung pelaksanaan Gong Tani secara terpadu dan terkoordinasi seperti: (1) Lembaga penyuluhan pertanian harus mampu meningkatkan ketrampilan petani dalam menerapkan inovasi untuk terus meningkatkan produktivitas efisiensi usaha; (2) Lembaga ekonomi memperkuat kemampuan modal petani untuk menghadapi pihak-pihak lain dalam persaingan bisnis dan dunia usaha; (3)  Lembaga sosial pedesaan haruslah mampu menciptakan iklim yang sehat sehingga para petani produsen dapat mengembangkan usahanya, menciptakan iklim usaha bersaing secara kreatif dengan mendorong anggota masyarakat bekerja keras, ulet dan jujur untuk  mencapai tujuan; dan (4) Lembaga Penelitian dan Pengembangan Daerah memperkuat pengembangan teknologi pertanian spesifik lokal dan sesuai dengan kebutuhan petani, perbaikan cara bertani, dan perbaikan sistem pemasaran.

IV.             PENUTUP

Gong Tani sebagai suatu gerakan petani untuk pulang kampung atau secara bersama-sama membangun potensi pertanian yang ada disekitarnya sehingga dapat memberikan sumbangan pendapatan dengan terlebih dahulu membuka lapangan pekerjaan baru di pedesaan dan diharapkan untuk secara kreatif, cerdas dan inovatif membangun potensi pertanian termasuk optimalisasi lahan kering dan lahan tidur dengan usaha tani yang tangguh.
Dalam kosa kata ekonomi, pembangunan pertanian di Kabupaten Belu dikatakan berhasil apabila telah mampu menjadi pengganda pendapatan (income multiplier) dan pengganda lapangan kerja (employment multiplier) bagi sektor perekonomian secara umum. Strategi pembangunan pertanian dikatakan telah berada pada jalur yang benar apabila sektor ekonomi yang sangat vital itu telah mampu menjadi stimulus bagi sektor-sektor lain dalam ekonomi untuk secara bersama-sama tumbuh dan berkembang sesuai dengan proporsi dan fase pembangunan eknonomi.

Tidak ada komentar:

SEJARAH MUSIK SULING BAMBU DI TIMOR

Oleh:   Ir. Beny. Ulu Meak, M.Si Sejarah tentang suling bambu sudah sedemikan lama dan erat kaitannya dengan peradaban manus...