Selasa, 14 Januari 2014

SEKILAS MEMAHAMI PULAU TIMOR


Oleh
Ir. Beny. Ulu Meak, M.Si


Versi Terjadinya Pulau Timor

(1)     Pandangan Ilmiah
Pulau Timor terbentuk karena pengangkatan permukaan bumi di atas permukaan laut sesuai proses tektonik epirogenetik negatif ketika terjadi tunjaman atau tumbukan lempeng Indo-Australia (lempeng samudra) terhadap lempeng Eurasia (lempeng benua). Admiranto, (2000) menjelaskan bahwa berdasarkan  teori Tektonik Lempeng dari Alfred L. Wagener  dalam bukunya The Origin of Continentsand Oceans (1915); terjadinya tumbukan antar lempeng tektonik benua dan samudera yang bersifat Epirogenetik negatif menyebabkan dasar lempeng benua yang terangkat akibat tunjaman lempeng samudera secara perlahan-lahan sehingga seolah-olah air laut turun dan lapisan kulit bumi menjadi naik atau garis pantai bergeser menjauhi daratan. Selanjutnya berdasarkan konsep Escape Tectonics (extrusion tectonics) yang dikemukakan oleh Molnar dan Tapponnier (1975) dalam (Satyana, 2007) bahwa gejala dan proses alam dalam evolusi wilayah konvergen di Indonesia telah mengakibatkan terbentuknya jalur lipatan dan sesar foreland sepanjang Timor terjadi ketika tepi utara Benua Australia berbenturan dengan busur Kepulauan Banda pada sekitar 3 Ma (pertengahan-Pliosen).
Menurut Suwitodirjo dan Tjokrosapoetro, (1979) bahwa  secara litologis pergerakan tektonik di pulau Timor yang berlangsung sejak kapur hingga akhir eosen akibat pergerakan benua Australia ke utara dengan zona penunjaman condong ke utara, sehingga pergerakan tersebut terjadi benturan busur kepulauan “Paleo Timor” dengan kerak samudera Hindia. Pada waktu proses perbenturan inilah,sehingga terjadi pembentukan batuan campur aduk. pengendapan formasi Noni, Haulasi dan formasi Ofu. penempatan batuan - batuan basa dan ultrabasa. pemalihan pada formasi Maubisse, Ailieu dan komplek Mutis. Hal senada dikemukakan oleh Hamilton (1979) berdasarkan hasil survei geologis di Indonesia termasuk Pulau Timor menunjukkan bahwa Pulau Timor struktur batuannya didominasi oleh hamparan batu kapur dan batu karang  tua (atol) karena proses evolusi geologis yang berlangsung lama dan diakibatkan oleh terdesaknya di antara kedua lempengan yaitu lempengan Indo-Australia dan lempengan Eurasia, sehingga menyebabkan batuan karang tersebut cenderung bertumbuh ke atas; maka tidak heran jika kita akan temui bermacam fosil kerang laut (hewan Molusca) tersebar diatas pegunungan.

(2)     Pandangan Penutur Adat:

Penutur adat dari Kabupaten Belu dan Belu Malaka yang dijuluki sebagai Mako’an atau sastrawan adat, menuturkan bahwa konon seluruh permukaan bumi tertutup air (jaman es-masa Neozoikum, khususnya periode Pleitosen), termasuk di Timor. Namun pada suatu ketika muncullah sebuah titik yang ternyata itu adalah puncak tertinggi dari keseluruhan Pulau Timor kelak. Titik kecil itu muncul dan bersinar sendiri. Orang di generasi sesudahnya menggambarkan kembali titik bumi yang muncul itu dengan sapaan adat-Bahasa Tetun: Foin Nu’u Manu Matan, Foin Nu’u Bua Klaut. Foin Nu’u Etu Kumun, Foin Nu’u Murak Husar atau dapat diartikan Baru Seperti Biji Mata Ayam, Baru Seperti Potongan Sebelah Buah Pinang, Baru Sebesar Gumpalan Nasi Di Tangan, Baru Sebesar Pusar Mata Uang. Titik kecil itulah yang kelak dikenal dengan Gunung Lakaan sekarang, sebagai puncak tertinggi di Kabupaten Belu. Oleh karenanya, orang Belu menjuluki puncak itu dengan nama Foho Laka An, Manu Aman Laka An, Hanesan Mane Mesak, Baudinik Mesak dan diartikan sebagai Gunung Yang Memiliki Cahaya Sendiri, Ayam Jantan Merah Bercahaya Sendiri, Seperti Lelaki Tunggal, Seperti Bintang Tunggal.
Belakangan diketahui bahwa puncak tertinggi di Pulau Timor untuk kawasan Barat adalah Gunung Mutis  yaitu:  ± 2.427 meter dpl berada di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan puncak tertinggi dari Gunung Lakaan adalah ± 1.578 meter dpl. Sedangkan puncak tertinggi di Kawasan Timur adalah gunung Tata Mailau yaitu : ± 2.963 meter dpl. Hal ini disebabkan oleh proses geologis secara alamiah yang berlangsung secara terus - menerus.

(3)     Pandangan Mitos

Menurut mitos rakyat setempat, pulau Timor dahulunya adalah seekor buaya raksasa. Mitos ini sangat kuat pandangannya terutama bagi orang di kawasan Timur Pulau Timor (RDTL –sekarang), sehingga orang Timor Leste sendiri menamakan daerahnya secara tak resmi dengan sebutan  “The Sleeping Crocodille” atau sang buaya tidur. Pandangan ini mencuat mungkin dihubungkan dengan profil Pulau Timor yang berbentuk seperti sang buaya tidur.

Luas dan Pembagian Kawasan Pulau Timor

Pulau Timor adalah sebuah pulau di Asia Tenggara yang berada pada busur kepulauan  Indonesia yaitu berada di bagian Selatan. Pulau Timor berbatasan dengan Laut  Savu, Flores dan Banda di bagian utara sedangkan  pada bagian selatan berbatasan dengan Laut Timor  dan Arafura. Pulau ini memiliki panjang ± 450 km  dan lebar ±105 km, dengan luas sebesar ± 30.777 km².
Pulau Timor
Pulau Timor telah terbagi menjadi dua bahagian selama berabad-abad sebagai akibat konstelasi politik koloni: (1) Kawasan Timor Barat, dengan luas  15.850 km² yang dikenali sebagai “Timor Belanda” dari tahun 1800-an hingga 1949 dan Pada Tahun 1950 ketika menjadi “Timor Indonesia”, dan bagian dari NKRI sampai sekarang serta merupakan wilayah dari Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT); dan (2) Kawasan Timor Timur,dengan luas ± 14.874 km² yang dikenal sebagai Timor Portugis dari tahun 1596 hingga 1975. Timor Timur pernah menjadi sebahagian dari Negara Indonesia pada tahun 1976 sebagai provinsi ke-27 atau Propinsi TIM-TIM tetapi tidak pernah diakui oleh PBB. Kemudian lewat referendum pada 30 Agustus 1999 maka wilayah ini berdiri sendiri menjadi Negara Republica Demokatica de Timor Leste (RDTL) pada 22 Mei 2002 sampai sekarang. Wilayah Timor Timur /RDTL juga mencakupi kawasan yang dinamakan Enclave Oecussi-Ambeno” yang berada di Timor Barat karena Belanda dan Portugis tidak menyelesaikan masalah perbatasan ini secara resmi sesuai perjanjian Lisboa pada tahun 1859 sampai pada tahun 1912, sehingga wilayah ini tetap menjadi wilayah Timor Portugis dan sekarang masuk menjadi wilayah RDTL sampai sekarang.
             Berdasarkan luas kawasan Timor bagian Barat = 15.850 km² dan luas kawasan Timor Bagian Timur = 14.874 km², sehingga jika dijumlahkan maka masih terdapat selisih luas keseluruhan dari Pulau Timor sebesar 53 km² ? alasan perbedaan ini : ditengarai sebagai informasi pendataan yang belum akurat.

Versi Nama Pulau Timor

Berdasarkan budaya oral (oral Culture) nama pulau  ini diambil dari kata “Timur” ( bahasa Melayu) kemudian  disebutkan  sebagai Timor; dinamakan demikian karena pulau ini terletak di ujung timur rantai kepulauan Sunda Kecil. Keberadaan Pulau Timor sudah dikenal sejak abad Ketujuh, Hal ini mungkin saja disebabkan karena kayu Cendana yang ada di Pulau Timor ini yang memang dikenal berkualitas baik. Waktu itu banyak pedagang dari Malaka, Gujarat, Jawa dan Makasar, serta pedagang dari Negeri Cina yang telah melakukan kontak dagang secara langsung dengan raja-raja yang saat itu menjadi penguasa di Timor. Menurut sebuah dokumen Cina yang ditulis oleh Chau Ju Kua, bahwa pada masa itu Pulau Timor biasa disebut dengan nama “Tiwu” dan oleh Hsing-Cha Shenglan, menyebutkan sebagai “Timun” (Diyakini sebutan sebagai Timor mengikuti budaya oral orang Cina). Pulau ini merupakan sebuah kawasan yang terkenal sangat kaya dengan kayu Cendana dengan pusat perdagangan. Di zaman kekuasaan kerajaan Hindu-Jawa, kerajaan Kediri telah melakukan hubungan dagang atau juga barter dengan raja-raja di wilayah Timor, atau bisa juga raja-raja taklukan yang berada di Pulau Timor untuk membayar upeti mereka dengan menggunakan kayu Cendana kepada raja di Kediri. Seperti halnya di dalam Buku Negarakertagama, mencatat bahwa wilayah Timor kepulauan yang saat itu terkenal dengan hasil Cendana-nya, adalah juga termasuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Menurut tradisi adat  lisan dan dugaan sebahagian orang nama Pulau Timor pada awalnya dikenal sebagai Baramatus” (Bahasa Portugis, Spanyol, Latin);  “Kata Para = untuk, menuju, mengarah, berorientasi; Kata Amatus atau Amare = yang dikasihi”. Kemungkinan pertama nama ini diberikan oleh bangsa Spanyol yang datang lebih dahulu ke Pulau Timor sekitar  tahun 1522 (Breunig, 1968 dalam Bouk, 2012). Nama ini diberikan sebagai nama samaran  ketika rombongan pelaut Spanyol itu masih berada di tengah laut karena mereka melihat dari kejauhan bahwa Pulau yang nantinya mereka akan singgahi tersebut masih seperti samar-samar atau bayang-bayang, sehingga mereka sangat merindukan untuk tiba di tempat itu. Kemungkinan lain berdasarkan cerita tutur adat dari para Mako’an atau sastrawan adat dari Fatuaruin-Belu Malaka bahwa mula-mula datang di Pulau Timor nenek moyang tiga bersaudara dari Malaka Likansala melalui Larantuka (Flores) terus ke Kupang,  dari Kupang ke Fatumea (sekarang wilayah Halilulik-Belu) melalui Hali knain-Kalilin dan terus ke Marlilu (sekarang wilayah Betun-Belu). Nama ketiga nenek moyang bersaudara itu adalah : Nekinmataus melanjutkan perjalanan lagi ke Likusaen (sekarang Timor Leste), Sakumataus  ke kerajaan Sonbai (sekarang TTS), dan Baramataus tinggal di Fatuaruin (Belu Malaka). Apakah nama Baramatus mungkin berhubungan dengan nama nenek moyang pendatang yang menetap di Fatuaruin-Belu yaitu : Baramataus dan mungkin karena ketersohorannya maka dipakai menyebut Pulau Timor ini sebagai Baramatus untuk nama samaran/julukan/alias.
Pandangan terakhir menyatakan bahwa  nama Timor adalah pemberian dari para pedagang dan misionaris bangsa Portugis ketika mereka melakukan ekspansi ke negeri-negeri di Timur jauh untuk memperluas wilayah koloninya dan mencari rempah-rempah dan kayu Cendana. Pada tahun 1556 datanglah armada laut pimpinan Alfonso De Albuquerque dan melakukan pendaratan di pantai Lifau-Oecussi (sekarang wilayah Enclave-Timor Leste) bersama para misionaris dari ordo Fransiskan (OFM) yang kelak menyebarkan agama Khatolik. Setelah mereka turun ke darat dan berusaha  melakukan komunikasi untuk bekerja sama dengan  orang-orang setempat (pribumi), tetapi karena orang-orang pribumi itu masih terlalu primitif sehingga mereka melarikan diri, takut, kecil hati dan bersembunyi karena melihat orang-orang pelaut yang datang  tersebut dengan postur tubuh tinggi, besar dan berkulit putih dengan cara tampilan yang sama sekali asing bagi mereka. Berdasarkan sikap dan prilaku orang pribumi demikian maka, orang-orang pelaut dan armada bangsa portugis menyebutnya sebagai : “ Temor “,  “Timor” (bahasa latin) dan “ Timeo” (bahasa Spanyol) yang artinya takut akan, cemas terhadap, bimbang, ragu-ragu, khawatir, kecil hati, pengecut dan malu (Prent, 1969) dalam Bouk (2012), Kemudian nama pulau ini berkembang luas hingga saat ini disebut sebagai Pulau Timor.  ----Baik tidak baik, tanah Timor lebih baik----


Daftar Bacaan

Admiranto, Gunawan, A,  2000., Menjelajahi Tata Surya, Kanisius, Yogyakarta.
Bouk, Saku, F, 2012., Komunikasi Misi Sosiatas Verdi Divini Timor, Gita Kasih, Kupang.
Satyana, Awang, H, 2007., Escape Tectonics Indonesia, Artikel dalam http://geologi.iagi.or.id , diakses pada tanggal 23 Januari 2013.
Hamilton, Warren, 1979, Tectonics of the Indonesian Region, Geological Survey-Professional Paper 1078, Us Govt, Printing Office Washinton, D.C.
Suwitodirdjo S., Tjokrosapoetro S.,1979, Peta Geologi Lembar Kupang - Atambua,Timor, skala 1:250.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Departemen Pertambangan dan Energi, Bandung.

Tidak ada komentar:

SEJARAH MUSIK SULING BAMBU DI TIMOR

Oleh:   Ir. Beny. Ulu Meak, M.Si Sejarah tentang suling bambu sudah sedemikan lama dan erat kaitannya dengan peradaban manus...